The Widgipedia gallery
requires Adobe Flash
Player 7 or higher.

To view it, click here
to get the latest
Adobe Flash Player.
Showing posts with label Kredit Mikro. Show all posts
Showing posts with label Kredit Mikro. Show all posts

Friday, April 22, 2011

Kredit Mikro Ala Grameen Bank

Persoalan kelompok masyarakat miskin dan usaha mikro dalam mengembangkan usaha adalah sedikitnya lembaga keuangan yang siap memberikan bantuan modal usaha bagi mereka. Tentu ini menjadikan kelompok masyarakat miskin semakin sulit beranjak dari kemiskinan. Berangkat dari permasalahan tersebut Grameen Bank konsen dalam memberikan pinjaman modal untuk golongan tidak mampu. Adalah Muhammad Yunus yang mulai memperkenalkan Grameen Bank ini di Bangladesh beberapa tahun silam. Keberhasilan pola ini mengatasi masalah kemiskinan membuat pola pemberian kredit mikro untuk kelompok masyarakat miskin ini diadopsi di beberapa negara di luar Bangladesh.

Pemberian kredit mikro ini memang difokuskan pada perempuan miskin pada usia produktif. Dengan pemberian kredit mikro ini perempuan bisa membantu mengatasi kemiskinan keluarga. Jika diterapkan dengan konsisten, pola Grameen Bank ini dapat mencapai tujuan untuk membantu perekonomian masyarakat miskin melalui perempuan. Lebih menarik lagi kredit mikro ini merupakan pinjaman tanpa agunan, sehingga tidak memberatkan peminjam.

Di Indonesia pola kredit mikro ala Grameen Bank ini telah diadopsi oleh Bakrie Group yang membentuk lembaga keuangan mikro untuk masyarakat kecil yang bernama bernama Bakrie Microfinance Indonesia. Menurut Irawan Massie, selaku Presiden Direktur Bakrie Microfinance, pihaknya memberikan kredit tanpa agunan untuk digunakan sebagai modal usaha. Dengan nilai kredit 1 juta per tahun per orang.

Meski program Kredit Mikro ini adalah program sosial untuk mensejahterakan rakyat miskin, tetapi berbeda dengan pemberian cuma-cuma. Pemberian cuma-cuma justru menjerumuskan rakyat bukan memotivasi rakyat miskin untuk maju. Seperti halnya Grameen Bank di Bangladesh Bakrie Microfinance Indonesia, memfokuskan pemberian kredit mikro kepada kaum perempuan usia produktif. Sebab mereka dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan usaha dan peduli pada keluarga. Selain itu, hasil usaha diharapkan bisa meningkatkan gizi dan pendidikan masyarakat. (Galeriukm)

Sumber : http://galeriukm.web.id/

baca selanjutnya...

Thursday, December 16, 2010

Kunci Sukses Grameen Bank: Wanita dan Open Source

Lembaga keuangan mikro (LKM) Bangladesh, Grameen Bank, yang didirikan oleh peraih Nobel Ekonomi tahun 2006 Muhammad Yunus diakui berhasil menjadi penggerak roda perekonomian suatu negara. Tak pelak, mereka pun jadi contoh bagi negara-negara lainnya.

Selidik punya selidik, ternyata kesuksesan tersebut mampu diraih lembaga keuangan ini lantaran dua faktor utama: Yakni wanita dan open source. Kenapa demikian?

Menurut Muhammad Shahjahan, General Manager dan Chief Financial Officer Grameen Bank, hampir 97% dari nasabah Grameen Bank yang berjumlah total 25 juta adalah kaum hawa.

"Karena wanita itu berorientasi pada keluarga, pada nilai-nilai kebaikan. Mereka akan mempertimbangkan keluarga, anak-anaknya sebelum bertindak," katanya saat berbincang dengan detikINET usai workshop 'Microfinance Business & Information Technology' yang digelar Sharing Vision di Royal Plaza, Singapura.

Pria yang juga deputi Muhammad Yunus ini menambahkan, wanita biasa bertindak lebih bertanggung jawab dan jujur karena lebih memperhatikan keluarga tadi.

Beda halnya dengan pria, imbuhnya, yang cenderung kurang abai kepada keluarga. Bahkan, kerap mengkhianati anak dan istri manakala memperoleh kesuksesan.

"Berdasarkan pengalaman, nasabah wanita kami sangat taat mematuhi cicilan kredit. Oleh karenanya, dari total pinjaman tingkat pengembaliannya mencapai 97,11 persen. Rasio kredit macet kurang dari 3 persen," tutur Shahjahan.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa rahasia kesuksesan Grameen Bank selanjutnya adalah penerapan teknologi informasi berbasis open source.

"Kita bukan negara kaya. Setengah penduduk kita rakyat miskin. Karenanya untuk infrastruktur TI, kita pergunakan seadanya dan semurah-murahnya. Open source adalah pilihan terbaik kami," tukasnya.

Salah satu aplikasi berbasis open source yang menjadi andalan Grameen Bank adalah MIFOS (Microfinance Opensource). Aplikasi tersebut menerapkan konsep web based management information system.

"Jadi kita tidak memerlukan komputer dengan spesifikasi bagus. Cukup komputer bekas, murah tapi masih bisa dipergunakan," Shahjahan menandaskan.

Sumber : http://www.detikinet.com/

baca selanjutnya...

Sunday, December 12, 2010

Kredit Mikro Pilar Ekonomi Kerakyatan

Beberapa tahun terakhir ini, wacana kredit mikro semakin mencuat ke permukaan dan menjadi topik menarik dalam berbagai perbincangan yang berkaitan dengan pembahasan mengenai pengentasan kemiskinan, perekonomian nasional, khususnya ekonomi kerakyatan.

Jika menengok ke belakang, munculnya mekanisme penyaluran kredit mikro berangkat dari beberapa kesadaran penting, antara lain kesadaran bahwa tidak ada sebuah negara pun di dunia ini yang langsung terbentuk sebagai negara besar tanpa melalui proses panjang dari sebuah negara kecil, yang bergulat dengan berbagai persoalan ekonomi masyarakatnya, serta berbagai kendala, kemudian ditemukan cara mengatasi berbagai tantangan tersebut hingga kukuh, tumbuh dan berkembang menjadi negara yang besar dengan sistem dan ekonomi yang kuat.

Hukum alam telah menggariskan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang tiba-tiba menjadi besar tanpa dimulai dari sesuatu yang berujud kecil. Termasuk di bidang ekonomi. Sebesar dan semantap apa pun sepak terjang sebuah usaha, tentulah diawali dari ayunan langkah yang kecil.

Memang, bisa saja sebuah usaha yang dimiliki oleh seorang pengusaha besar atau mengawali usaha baru dengan modal milyaran rupiah, yang menurut orang lain sangat besar jumlahnya, tetapi sesungguhnya jumlah itu bisa bernilai kecil bagi sebuah langkah awal pada usaha yang bersangkutan. Dan jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya usaha tersebut merupakan cabang atau ranting dari pohon bisnis yang sudah besar, di mana pohon tersebut berawal dari sebuah tunas yang kecil.

Dari sisi perkembangannya, kita dapat mengklasifikasikan skala bisnis yang ada ke dalam kelompok-kelompok usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar. Dan kenyataan menunjukkan bahwa di semua negara, termasuk di Indonesia, populasi bisnis berskala mikro dan kecil menempati urutan teratas, disusul oleh usaha berskala menengah dan berskala besar.

Usaha mikro dan kecil jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan usaha berskala menengah dan besar. Namun karena keleluasaan jangkauan dan kemampuan kontrol pengendalian bisnis seringkali berada di tangan pemilik atau pebisnis-pebisnis besar, maka tidak heran pebisnis besar menyedot hampir sebagian besar perhatian, dan menjadi lebih dominan.

Usaha Kecil Motor Utama Pembangunan Ekonomi

Jika kita mau mengesampingkan faktor dominasi dan memfokuskan pandangan kita pada potensi usaha, tentulah kita akan segera bersepakat bahwa usaha mikro dan kecil yang sedemikian banyak jumlahnya itulah yang sesungguhnya menjadi motor utama penggerak pembangunan perekonomian sebuah negara.

Pemikiran inilah yang kemudian mengantarkan kepada pengelola negara untuk memberi perhatian yang serius pada usaha-usaha berskala mikro dan kecil.

Upaya untuk menyokong usaha mikro, dan kecil telah dilakukan pemerintah. Berbagai strategi dan langkah telah dijalankan. Ada yang melalui hibah tambahan permodalan, sokongan infrastruktur, kredit berbunga rendah dan bersubsidi, dana bergulir, dan banyak masih lagi.

Hasil dari semua langkah itu bergantung pada kesesuaian kebutuhan riil usaha yang berkait erat dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat, dengan implementasi dari strategi yang diterapkan.

Di luar masalah budaya dan tata cara hidup masyarakat yang berbeda-beda di setiap tempat, secara universal ada empat kebutuhan pokok yang dibutuhkan semua orang untuk menjalankan suatu usaha. Empat kebutuhan pokok tersebut adalah: lahan usaha/tempat, sumber daya manusia, teknologi, dan modal.

Jika hendak merancang sebuah langkah yang bertujuan untuk menyokong usaha mikro dan kecil, seyogyanyalah kita memandang persoalan yang dihadapi oleh para pengusaha mikro dan kecil dari keempat perspektif tersebut.

Biasanya, sebuah pemerintahan yang baik akan memberi perhatian yang sama seriusnya pada keempat faktor produksi di atas. Sebab, mengabaikan satu faktor saja dari keempat faktor tersebut sama saja dengan membiarkan langkah yang telah dirancang tidak akan berjalan dengan baik. Kalaupun berjalan, hasilnya tentulah akan jauh dari yang diharapkan.

Khusus mengenai permodalan, di dalam bisnis dikenal dua pengertian modal. Pertama, modal sendiri, dalam arti si pengusaha mempunyai sejumlah uang yang telah disisihkan untuk sebuah kegiatan usaha. Yang kedua, modal dari luar, yaitu modal yang diperoleh dari perbankan, dan non perbankan, yang digunakan untuk menjalankan sebuah usaha.

Untuk modal yang diperoleh dari sumber non perbankan, sumbernya cukup banyak didapat. Bisa dari lembaga-lembaga keuangan non bank, individu-individu, sanak kerabat, dan banyak lagi sumber keuangan informal lainnya. Pengelolaan dan mekanisme imbal-baliknya berbeda-beda tergantung dari kesepakatan antar pihak.

Pada tataran inilah biasanya persoalan kerap muncul. Kerumitan prosedur dan timpangnya aturan main sering menyebabkan banyak usaha mikro dan kecil justru terbelit dalam berbagai persoalan. Alih-alih beranjak untuk memajukan usaha, untuk menarik diri dari kutatan persoalan permodalan saja, kadang banyak yang tak sanggup.

Untuk menjawab persoalan ini, usaha mikro dan kecil memerlukan tersedianya fasilitas permodalan yang lebih mudah dikelola, terencana dan terukur melalui lembaga perbankan ataupun koperasi kredit (Credit Union). Dari sinilah kemudian muncul mekanisme kredit mikro, yaitu kredit dalam skala mikro dan kecil yang disalurkan kepada usaha-usaha mikro dan kecil.

Kecilnya kredit di sini bukanlah karena pembatasan nilai kredit atau pinjaman, melainkan karena kebutuhan usaha tersebut memang relatif kecil.

Karena jumlah nasabahnya yang relatif cukup banyak, hampir semua negara meyakini bahwa kredit mikro dapat menjadi motor penggerak dari pembangunan ekonomi mereka. Wajar jika hampir semua negara, pemerintahan dan institusi-institusi yang berkepentingan terhadap perbaikan kehidupan ekonomi masyarakatnya, menganggap usaha kecil dengan dukungan pembiayaan kredit mikro sebagai sesuatu hal yang sangat strategis.

Karena itu dapat dimaklumi adanya pemikiran bahwa jika pengelola atau pelaksana kredit mikro dapat melakukannya dengan baik, maka dukungan kredit mikro sangat mungkin menciptakan usaha-usaha mikro dan kecil tumbuh menjadi usaha menengah, bahkan besar.

Tentu kita ingin melihat di masa mendatang, pengusaha mikro dapat berkembang lebih cepat menjadi pengusaha kecil, dan pengusaha kecil meningkat menjadi pengusaha menengah, dan usaha menengah dapat menjadi usaha-usaha besar.

Sumber : http://www.majalahwk.com/

baca selanjutnya...

Thursday, December 09, 2010

Nobel untuk Kredit Mikro

Siapa bilang lembaga keuangan mikro (LKM) yang secara khusus untuk melayani permodalan bagi orang miskin tidak bisa tumbuh berkembang. Buktinya di Bangladesh, LKM justru tumbuh berkembang sangat pesat menjadi sebuah bank raksasa, bernama Grameen Bank dengan kantor cabang mencapai 2.226 unit tersebar di 71.371 desa di negara itu.

Bahkan, kesuksesan program kredit mikro tersebut telah mengantarkan Muhammad Yunus, penggagas dan sekaligus pendiri Grameen Bank memperoleh penghargaan nobel perdamaian tahun 2006. Profesor ekonomi di Universitas Cittagong - Bangladesh ini memang ‘otak’ di balik suksesnya program kredit mikro yang dikembangkan di wilayah perdesaan Bangladesh.

Grameen Bank, yang cikal bakalnya kredit mikro, adalah wujud sukses dari perjuangan gigih Muhammad Yunus. Proyek tersebut membuktikan bahwa penyaluran kredit bagi masyarakat miskin bukanlah sesuatu yang tidak mungkin digulirkan dalam mengatasi kemiskinan. Kini, model kredit mikro yang dibangun Muhammad Yunus itu dicontoh oleh sekitar 40 negara.

Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa model seperti Grameen Bank tidak bisa berkembang di Indonesia. Padahal Indonesia juga termasuk gudangnya masyarakat miskin.

Tahun 1960-an kita pernah memiliki sejumlah bank koperasi yang pelayanannya mirip dengan Grameen Bank. Tapi entah bagaimana bank-bank tersebut raib entah kemana. Belakangan muncul Bank Umum Koperasi Indonesia (Bukopin), juga untuk melayani petani dan koperasi. Tapi, lagi-lagi misi bank itu semakin kabur. Lantas, apa yang salah dengan bangsa ini? Mengapa kredit mikro tidak bisa berkembang di negeri yang masih dibalut kemiskinan ini?

Sumber : http://www.majalah-pip.com/majalah2008/readstory.php?cR=1290642594&pID=9&stID=432

baca selanjutnya...

Monday, August 23, 2010

Modal Sosial Faktor Kunci Keberhasilan Kredit Mikro

Faktor modal sosial berupa keeratan hubungan komunitas, nilai, dan budaya menjadi kunci keberhasilan kredit mikro. Bahkan, kepercayaan yang terbangun tersebut dapat mengatasi kendala informasi asimetris dan adverse selection, sehingga terjadi perbaikan akses bagi pelaku usaha mikro di pedesaan. Demikian salah satu temuan dari penelitian Krisna Wijaya dalam disertasinya yang berjudul Pengaruh Karakteristik Nasabah, Kondisi Perekonomian, dan Pembinaan Nasabah terhadap Penyaluran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) di BRI Cabang Sleman.

“Keberhasilan BRI di pedesaan berkat modal sosial. Hal inilah yang juga menjadi barrier entry (penghalang) bagi bank-bank lain untuk masuk ke segmen ini,” jelas dia.

Krisna merupakan mantan direktur BRI yang pernah berkarier selama 25 tahun di bank tersebut Jabatan terakhirnya adalah komisaris independen Bank Danamon Indonesia.

Krisna mendapat gelar doktor ke-1068 di bidang multidisiplin ilmu dari Universitas Gadjah Mada, dengan predikat cum laude, setelah berhasil mempertahankan penelitiannya di hadapan tujuh penguji, di antaranya Prof Gunawan Sumodining-rat, ahli antropologi Irwan Abdullah Ph.D, Abdul Salam, dan Mochtar Masoed, di Kampus UGM, Yogyakarta, Senin (4/5).

Selain BRI, kini sejumlah bank gencar berekspansi ke kredit mikro, seperti Danamon melalui Danamon Simpan Pinjam, BTPN melalui Mitra Usaha Rakyat, Bank Mayapada dengan Mayapada Wira Usaha, dan lain sebagainya.

Dalam penelitiannya di Sleman, Krisna menemukan fakta bahwa keberadaan Kupedes terbukti memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat

Namun, kontribusi tersebut masih sangat minim. Hal itu terlihat dari setiap tambahan Kupedes senilai Rp 1 juta hanya meningkatkan pendapatan rata-rata Rp 55.152. Sebaliknya, kenaikan pendapatan nasabah pada angka yang sama, yakni Rp 1 juta mendorong tambahan Kupedes lebih besar, yakni rata-rata Rp 6,75 juta.

Selain itu, pengaruh pendapatan domestik regional bruto (PDRB) terbukti lebih besar memengaruhi Kupedes ketimbang sebaliknya. Tiap tambahan dana Kupedes Rp 1 juta hanya menambah

PDRB rata-rata Rp 64 ribu. Sebaliknya, tiap peningkatan Rp 1 juta PDRB mampu mengangkat ekspansi Kupedes Rp 218.753.

“BRI belum bisa memanfaatkan potensi ekonomi daerah secara optimal. Kupedes membesar berkat pertumbuhan ekonomi dan bukan sebaliknya,” ujar dia.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar dilakukan upaya-upaya strategis dan inovatif dalam rangka meningkatkan kemampuan BRI unit untuk meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian daerah dan bersaing dengan bank-bank lain dalam meraih pangsa pasar kredit

Revitalisasi Pemasaran

Salah satu solusi untuk meningkatkan ekspansi kredit mikro dan peranannya adalah dengan mengintensifkan pembinaan, seperti yang diperankan oleh mantri BRI. Namun, dalam penelitiannya terungkap bahwa beban para mantri tersebut dirasakan terlalu besar.

“Hal-hal yang harus mendapatkan perhatian selain mengkaji ulang beban kerja dan menambah jumlah mantri dapat dipertimbangkan untuk melaksanakan pendampingan melalui kerja sama dengan pihak ketiga,” ujar Krisna.

Oleh karena itu, dia meminta agar Bank Indonesia dapat mengeluarkan kebijakan yang bersifat mandatori untuk pelaksanaan pendampingan ini. Selain meningkatkan pengetahuan masyarakat lewat edukasi, fokus pendampingan juga dimaksudkan sebagai bagian dari usaha meningkatkan kemampuan calon nasabah agar dapat dinyatakan layak menjadi nasabah Kupedes.

“Kerja sama dengan konsultan keuangan mitra bank (KKMB) dapat menjadi alternatif dalam pelaksanaan pendampingan, setelah dilakukan penyempurnaan struktur organisasi maupun pola manajemen,” tegas Krisna.

Namun, keberadaan KKMB harus dipikirkan lembaga manakah yang memilikinya. Hal ini penting karena kejelasan kepemilikan menjadi faktor penentu dalam setiap produk kredit mikro.

“Keberhasilan produk Kupedes yang dilahirkan sejak tahun 1984 sebetulnya berkat kepemilikan yang jelas. Tidak ada produk yang langgeng kalau tidak ada pemilik yang mengklaim,” tuturnya.

Faktor lain yang berpengaruh positif terhadap penyaluran Kupedes selain pembinaan, adalah faktor pemasaran. Sedangkan prosedur tidak menjadi masalah, (ef)

Sumber: INVESTOR DAILY INDONESIA
http://www.depkop.go.id/component/content/article/377-modal-sosial-faktor-kunci-keberhasilan-kredit-mikro.html

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Bookmark and Share

Site Meter

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP